Sabtu, 03 Desember 2011

PERKEMBANGAN DAN PERTUMBUHAN PADA USIA ADOLESCENCE


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
“Remaja”, kata itu mengandung aneka kesan. Ada orang berkata bahwa remaja merupakan kelompok yang biasa saja, tiada beda dengan kelompok manusia lain. Sementara pihak lain menganggap bahwa remaja adalah kelompok yang sering menyusahkan orang tua. Pihak lainnya lagi menganggap bahwa remaja sebagai potensi manusia yang perlu dimanfaatkan.
Pendekataan mana pun yang dijalani oleh Pembina, sebelum ataupun bersamaan dengan usaha kongkrit dilakukan, sangat perlu adanya pengertian dan pemahaman para Pembina terhadap remaja.
Satu diantara usaha pengertian dan pemahaman dimaksud adalah dengan mengetahui dan mengerti tentang pertumbuhan dan perkembangan remaja. Khususnya dalam mengantar remaja menuju kematangan psikis dan ketangan sosialnya.

B.     Tujuan

1.      Tujuan Umum
a.       Untuk membantu kelancaran proses belajar mengajar
b.      Untuk memperbanyak buku di perpustakaan STIKES Husada Jombang.
2.      Tujuan Khusus
a.       Untuk meningkatkan minat baca mahasiswa.
b.      Meningkatkan rasa tanggung jawab.
c.       Memenuhi tugas mata kuliah keperawatan anak








BAB II

LANDASAN TEORI



A.    Pengertian Remaja

         Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).
      Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun. Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa. Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.
Transisi perkembangan pada masa remaja berarti sebagian perkembangan masa kanak-kanak masih dialami namun sebagian kematangan masa dewasa sudah dicapai (Hurlock, 1990). Bagian dari masa kanak-kanak itu antara lain proses pertumbuhan biologis misalnya tinggi badan masih terus bertambah. Sedangkan bagian dari masa dewasa antara lain proses kematangan semua organ tubuh termasuk fungsi reproduksi dan kematangan kognitif yang ditandai dengan mampu berpikir secara abstrak (Hurlock, 1990; Papalia & Olds, 2001).

         Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:
1)      Perkembangan fisik,
2)      Perkembangan kognitif,
3)      Perkembangan kepribadian dan sosial.

      Masa remaja merupakan suatu masa yang sangat menentukan karena pada masa ini seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis. Terjadinya banyak perubahan tersebut sering menimbulkan kebingungan-kebingungan atau kegoncangan jiwa remaja, sehingga disebut sebagai periode pubertas.
         Mereka bingung karena pikiran dan emosinya berjuang untuk menemukan diri,memahami dan menyeleksi serta melaksanakan nilai-nilai yang ditemui di masyarakatnya,disampiang perasaan ingin bebas dari segala ikatan  yang muncul dengan kuatnya.Sementara fisiknya sudah cukup besar,sehingga disebut anak tidak mau dan disebut orang dewasa tidak mampu,sehingga para ahli menyebutnya masa peralihan.
C.    Fase-fase Remaja dan Ciri Utamanya

Para ahli berbeda-beda pendapatnya mengenai pembagian fase remaja, dikarenakan sulitnya memberi bekas yang pasti.
Pembagian masa remaja;


1.      Menurut HURLOCK menjadi 2 fase yaitu;
Ø  Puberty terbagi menjadi;
·      Fase Prepuberscent: sejak tahun terakhir masa anak
·      Fase puberscent: pemisah antara anak dengan Adolescence (kematangan seksual)
·      Fase Post-Puberscent: sejak akhir Puberscent sampai dengan 1-2 tahun masuk kedalam  fase Adolescence.
Ø  Adolescence terbagi menjadi;
·      Early Adolencence; dari usia 13-16 tahun atau 17 tahun
·      Late adolencence; 17 tahun ke atas sampai tercapainya kematanagan secara hukum (Hurlock 1980-1982).
2.      Menurut KWEE SOEN LIANG (1980) menjadi 3 fase yaitu;
Ø  Praepuberteit:  pada fase ini disebut sebagai fase negatif,
·      laki-laki: 13-14 tahun
·      wanita: 12-13 tahun
Ø  Puberteit; pada fase ini remaja mengalami marindu puja,
·         Laki-laki; 14-18 tahun
·         Wanita; 13-18 tahun
Ø  Adolescence: pada fase ini remaja sedang dalam keadaan stabil,
·         Laki-laki; 19-23 tahun
·         Wanita; 18-21 tahun

D.    Perkembangan Fisik / Seksualitas
1.      Fase pra-remaja
ü  Pertumbuhan badan sangat cepat, wanita nampak lebih cepat dari pada laki-laki, sehingga dapat menyebabkan seks antagonisme.
ü  Pertumbuhan anggota badan dan otot-otot sering berjalan tak seimbang, sehingga dapat menimbulkan kekakuan dan kekurangan serasian.
ü  Seks primer dan sekunder mulai berfungsi dan produktif di tandai dengan mimpi pertama bagi laki-laki, dan menstruasi pertama bagi wanita.
2.      Fase remaja
ü  Bentuk badan lebih banyak memanjang daripada melebar, terutama bagian badan, kaki dan tangan.
ü  Akibat berproduksinya kelenjar hormon, maka jerawat sering timbul di bagian muka
ü  Timbulnya dorongan-dorongan seksual terhadap lawan jenis, akibat matangnya kelenjar seks.
3.      Fase adolescence (akhir masa remaja)
ü  Pertumbuhan badan merupakan batas optimal, kecuali pertumbuhan berat badan
ü  Keadaan badan dan anggota-anggotanya menjadi berimbang, muka berubah menjadi simetris sebagaimana layaknya orang dewasa.

E.     Aspek-aspek perkembangan pada masa remaja
v  Perkembangan fisik

            Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001). Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi. Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan. Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

v  Perkembangan Kognitif

            Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka. Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka. Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.
Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa. Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak. Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

Tahap formal operations adalah suatu tahap dimana seseorang sudah mampu berpikir secara abstrak. Seorang remaja tidak lagi terbatas pada hal-hal yang aktual, serta pengalaman yang benar-benar terjadi. Dengan mencapai tahap operasi formal remaja dapat berpikir dengan fleksibel dan kompleks. Seorang remaja mampu menemukan alternatif jawaban atau penjelasan tentang suatu hal. Berbeda dengan seorang anak yang baru mencapai tahap operasi konkret yang hanya mampu memikirkan satu penjelasan untuk suatu hal. Hal ini memungkinkan remaja berpikir secara hipotetis. Remaja sudah mampu memikirkan suatu situasi yang masih berupa rencana atau suatu bayangan (Santrock, 2001). Remaja dapat memahami bahwa tindakan yang dilakukan pada saat ini dapat memiliki efek pada masa yang akan datang. Dengan demikian, seorang remaja mampu memperkirakan konsekuensi dari tindakannya, termasuk adanya kemungkinan yang dapat membahayakan dirinya.
Pada tahap ini, remaja juga sudah mulai mampu berspekulasi tentang sesuatu, dimana mereka sudah mulai membayangkan sesuatu yang diinginkan di masa depan. Perkembangan kognitif yang terjadi pada remaja juga dapat dilihat dari kemampuan seorang remaja untuk berpikir lebih logis. Remaja sudah mulai mempunyai pola berpikir sebagai peneliti, dimana mereka mampu membuat suatu perencanaan untuk mencapai suatu tujuan di masa depan (Santrock, 2001).

Salah satu bagian perkembangan kognitif masa kanak-kanak yang belum sepenuhnya ditinggalkan oleh remaja adalah kecenderungan cara berpikir egosentrisme (Piaget dalam Papalia & Olds, 2001). Yang dimaksud dengan egosentrisme di sini adalah “ketidakmampuan melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain” (Papalia dan Olds, 2001). Elkind (dalam Beyth-Marom et al., 1993; dalam Papalia & Olds, 2001) mengungkapkan salah satu bentuk cara berpikir egosentrisme yang dikenal dengan istilah personal fabel.

Personal fabel adalah "suatu cerita yang kita katakan pada diri kita sendiri mengenai diri kita sendiri, tetapi [cerita] itu tidaklah benar" Kata fabel berarti cerita rekaan yang tidak berdasarkan fakta, biasanya dengan tokoh-tokoh hewan. Personal fabel biasanya berisi keyakinan bahwa diri seseorang adalah unik dan memiliki karakteristik khusus yang hebat, yang diyakini benar adanya tanpa menyadari sudut pandang orang lain dan fakta sebenarnya.
Papalia dan Olds (2001) dengan mengutip Elkind menjelaskan “personal fable” sebagai berikut :
Personal fable adalah keyakinan remaja bahwa diri mereka unik dan tidak terpengaruh oleh hukum alam. Belief egosentrik ini mendorong perilaku merusak diri [self-destructive] oleh remaja yang berpikir bahwa diri mereka secara magis terlindung dari bahaya.
Misalnya seorang remaja putri berpikir bahwa dirinya tidak mungkin hamil [ karena perilaku seksual yang dilakukannya ], atau seorang remaja pria berpikir bahwa ia tidak akan sampai meninggal dunia di jalan raya [saat mengendarai mobil], atau remaja yang mencoba-coba obat terlarang [drugs] berpikir bahwa ia tidak akan mengalami kecanduan. Remaja biasanya menganggap bahwa hal-hal itu hanya terjadi pada orang lain, bukan pada dirinya. Pendapat Elkind bahwa remaja memiliki semacam perasaan invulnerability yaitu keyakinan bahwa diri mereka tidak mungkin mengalami kejadian yang membahayakan diri, merupakan kutipan yang populer dalam penjelasan berkaitan perilaku berisiko yang dilakukan remaja (Beyth-Marom, dkk., 1993). Umumnya dikemukakan bahwa remaja biasanya dipandang memiliki keyakinan yang tidak realistis yaitu bahwa mereka dapat melakukan perilaku yang dipandang berbahaya tanpa kemungkinan mengalami bahaya itu.

Beyth-Marom, dkk (1993) kemudian membuktikan bahwa ternyata baik remaja maupun orang dewasa memiliki kemungkinan yang sama untuk melakukan atau tidak melakukan perilaku yang berisiko merusak diri (self-destructive). Mereka juga mengemukakan adanya derajat yang sama antara remaja dan orang dewasa dalam mempersepsi self-invulnerability. Dengan demikian, kecenderungan melakukan perilaku berisiko dan kecenderungan mempersepsi diri invulnerable menurut Beyth-Marom, dkk., pada remaja dan orang dewasa adalah sama.

v  Perkembangan kepribadian dan sosial

Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).
Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001). Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar. Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat. Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991). Kelompok teman sebaya diakui dapat mempengaruhi pertimbangan dan keputusan seorang remaja tentang perilakunya (Beyth-Marom, et al., 1993; Conger, 1991; Deaux, et al, 1993; Papalia & Olds, 2001). Conger (1991) dan Papalia & Olds (2001) mengemukakan bahwa kelompok teman sebaya merupakan sumber referensi utama bagi remaja dalam hal persepsi dan sikap yang berkaitan dengan gaya hidup. Bagi remaja, teman-teman menjadi sumber informasi misalnya mengenai bagaimana cara berpakaian yang menarik, musik atau film apa yang bagus, dan sebagainya (Conger, 1991).


F.     Ciri-ciri Masa Remaja

Masa remaja adalah suatu masa perubahan. Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis. Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

1.      Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress.Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja.Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di    awal- awal masa kuliah. Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik             perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja. Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang    lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih             matang.
Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi      dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan            hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan     jenis, dan dengan orang dewasa.
Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-           kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.

2.      Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.

G.    Tugas perkembangan remaja
Tugas perkembangan remaja menurut Havighurst dalam Gunarsa (1991) antara   lain :
v  Memperluas hubungan antara pribadi dan berkomunikasi secara lebih dewasa dengan kawan sebaya, baik laki-laki maupun perempuan memperoleh peranan sosial menerima kebutuhannya dan menggunakannya dengan efektif memperoleh kebebasan emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya mencapai kepastian akan kebebasan dan kemampuan berdiri sendiri memilih dan mempersiapkan lapangan pekerjaan mempersiapkan diri dalam pembentukan keluarga
v  Membentuk sistem nilai, moralitas dan falsafah hidup. Erikson (1968, dalam Papalia, Olds & Feldman, 2001) mengatakan bahwatugas utama remaja adalah menghadapi identity versus identity confusion,       yang merupakan krisis ke-5 dalam tahap perkembangan psikososial yang diutarakannya. Tugas perkembangan ini bertujuan untuk mencari identitas diri agar nantinya remaja dapat menjadi orang dewasa yang unik dengan sense of self yang koheren dan peran yang bernilai di masyarakat (Papalia, Olds & Feldman, 2001). Untuk menyelesaikan krisis ini remaja harus berusaha untuk menjelaskan siapa dirinya,apa perannya dalam masyarakat, apakah nantinya ia akan berhasil atau gagal yang pada akhirnya menuntut seorang remaja untuk  melakukan penyesuaian mental,dan menentukan peran, sikap, nilai,serta minat yang dimilikinya.
H.    Perkembangan Perasaan
Berbagai perasaan telah berkembang pada masa remaja perasaan sosial, etis, dan estetis mendorong remaja untuk menghayati perikehidupan masa kematangan seksual. Di dorong oleh perasaan ingin tahu dan perasaan super, remaja lebih mudah terperosok ke arah tindakan seksual yang negatif.


I.       Pertimbangan Sosial

Dalam kehidupan keagamaan remaja timbul konflik antara pertimbangan moral dan material. Remaja sangat bingung menentukan pilihan itu karena kehidupan duniawi lebih dipengaruhi kepentingan akan materi. Maka para remaja lebih cenderung jiwanya untuk bersikap materialistis sehingga pada fase pra-remaja, remaja mempunyai sikap sosial yang negatif. Namun, pada fase remaja terjadi proses sosial, sehingga remaja mempunyai sikap sosial yang positif, suka bergaul dan membentuk kelompok-kelompok seusia. Pada fase adolescence, perkembangan sosial remaja berada dalam periode krisis. Karena mereka berada di ambang pintu kedewasaan. Kematangan konsep diri, penerimaan dan penghargaan sosial oleh orang dewasa sekitar konsep diri, penerimaan dan penghargaan sosial oleh orang dewasa sekitarnya serta keharusan bertingkah laku sebagai orang dewasa, menjadi tanda Tanya besar bagi mereka, apakah sudah mampu menjadi orang dewasa, menjadi tanda Tanya besar bagi mereka, apakah sudah mampu menjadi orang dewasa dengan segala tugas dan tanggung jawabnya (Zakiah Drajad: 1977)

J.      Perkembangan Berpikir

Perkembangan berpikir pada remaja itu lebih kritis dibandingkan pada masa anak-anak.Pada fase remaja tingkat berpikir berada dalam stadium operasional formal yang bersifat verbal yang menekankan pada penggunaan rasio atau logika. Kemudian kemampuan berpikir operasional formal nampaknya mencapai kematangan pada fase adolescence,sehingga mampu menyusun rencana-rencana,
menyusun alternative dan menentukan pilihan dalam hidup dan kehidupannya.

K.    Perkembangan Moral dan Nilai
Organ-organ seks yang telah matang menyebabkan remaja mendekati lawan seks. Ada dorongan-dorongan seks dan kecenderungan memenuhi dorongan itu, sehingga kadang-kadang dinilai oleh masyarakat tidak sopan. Tambahan pula, ada keberanian mereka menonjolkan seks sarta keberanian dalam pergaulan dan menyerempet bahaya. Dari keadaan tersebut itulah kemudian sering timbul masalah dengan orang tua atau orang dewasa lainnya, hal ini terjadi sekitar usia 15-17 tahun.Setelah masa ini, stabilitas mulai timbul dan meningkat, remaja lebih dapat mengadakan penyesuaian-penyusaian dalam aspek kehidupannya.

L.     Perkembangan Jiwa Agama
Bagi remaja, agama memiliki arti yang sama pentingnya dengan moral. Bahkan, seperti yang dijelaskan oleh Adams & Gullotta (1983), agama memberikan sebuah kerangka moral. Sehingga membuat seseorang mampu membandingkan tingkah lakunya. Agama memberikan perlindungan rasa aman, terutama bagi remaja yang sedang mencari eksistensi dirinya. Dibandingkan dengan masa awal anak-anak, keyakinan agama remaja telah mengalami perkembangan yang cukup berarti. Kalau pada masa awal anak-anak ketika mereka baru memiliki kemampuan berpikir simbolik. Yang mana Tuhan dibayangkan sebagai orang yang berada di awan. Sehingga pada masa remaja mereka mungkin barusaha mencari sebuah konsep yang lebih mendalam tentang Tuhan dan eksistensinya. Perkembangan pemahaman remaja terhadap keyakinan agama ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan kognitifnya. Dalam studi yang dilakukan Goldman (1962) tentang perkembangan pemahaman agama anak-anak dan remaja dengan latar belakang teori perkembangan kognitif piaget, ditemukan bahwa perkembangan pemahaman agama remaja berada pada tahap 3, yaitu format operational religious Thought, dimana remaja memperlihatkan pemahaman agama yang lebih abstrak dan hipotesis. Secara fisik remaja sudah berpenampilan dewasa, tetapi secara psikologis belum.Ketidakseimbangan ini menjadikan terombang-ambing. Menghadapi gejala seperti ini, nilai-nilai ajaran agama sebenarnya dapat difungsikan. Tokoh dan pemuka agama mempunyai peran strategis untuk mampu melakukan pendekatan yang tepat. Melalui pendekatan dan penelitian nilai-nilai ajaran agama yang baik, setidaknya akan memberi kesadaran baru bagi remaja. Bahkan agama itu mengundang nilai-nilai ajaran yang sejalan dengan fitrah manusia, universal, dan bertumpu pada pembentukan sikap akhlak mulia.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

            Pertumbuhan dan perkembangan madya’ dapat diartikan sebagai perubahan yang sistematis (perubahan yang bersifat saling kebergantungan atau saling mempengaruhi antara satu bagian dengan bagian lainnya, baik fisik maupun psikis ( psikologis ) dan merupakan satu kesatuan yang harmonis), progresif (perubahan yang terjadi bersifat maju, meningkat dan meluas, baik secara kuantitatif/fisik mapun kualitatif/psikis), dan berkesinambungan (perubahan pada bagian atau fungsi organisme itu berlangsung secara beraturan atau berurutan) dalam diri individu sejak lahir hingga akhir hayatnya atau dapat diartikan pula sebagai perubahan – perubahan yang dialami individu menuju tingkat kedewasaan atau kematangannya”. (Yusuf, 2003:15). Setiap individu akan mengalami proses perkembangan yang berlangsung melalui tahapan-tahapan perkembangan secara berantai. Masa remaja merupakan suatu masa yang sangat menentukan karena pada masa ini seseorang banyak mengalami perubahan, baik secara fisik maupun psikis.
Menurut Hurlock, dia membagi masa remaja menjadi dua fase, yaitu, masa puberty dan masa adolescence sedangkan Kwoe Soen Liang, membagi fase remaja menjadi tiga fase, yaitu: praepuberteit, puberteit, dan adolescence.
1)      Ciri-ciri penting remaja awal yaitu sekitar 12/13 – 17/18 tahun, seperti yang diungkapkan oleh Hurlock, yaitu: keinginan untuk menyendiri, berkurang kemauan untuk bekerja, kurang koordinasi fungsi-fungsi, kejemuan, kegelisahan, kepekaan perasaan, kurang percaya diri, dan timbul minat pada lawan jenis.
2)      Ciri-ciri penting remaja akhir yaitu sekitar 17/18 – 21/22, ialah stabilitas mulai timbul dan meningkat, pandangan yang lebih realitas, menghadapi masalah secara lebih matang, serta perasaan menjadi lebih tenang.



LAPORAN PENDAHULUAN

A.    DEFINISI

BPH adalah pembesaran atau hypertropi prostat. Kelenjar prostat membesar,
memanjang ke arah depan ke dalam kandung kemih dan menyumbat aliran keluar urine, dapat menyebabkan hydronefrosis dan hydroureter.
Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau disebut tumor prostat jinak adalah pertumbuhan berlebihan dari sel-sel prostat yang tidak ganas. Pembesaran prostat jinak akibat sel-sel prostat memperbanyak diri melebihi kondisi normal, biasanya dialami laki-laki berusia di atas 50 tahun.

B.     ETIOLOGI
Menurut Syamsu Hidayat dan Wim De Jong tahun 1998 etiologi dari BPH adalah:
1)      Adanya hiperplasia periuretral yang disebabkan karena perubahan keseimbangan testosteron dan estrogen.
2)      Ketidakseimbangan endokrin.
3)       Faktor umur / usia lanjut.
4)      Unknown / tidak diketahui secara pasti.
Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor perubahan usia, di antaranya:
1)      Teori DHT (dihidrotestosteron). Testosteron dengan bantuan enzim 5-a reduktase dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.
2)      Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang pertumbuhan epitel.
3)      Teori stem cell hypotesis. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4)      Teori growth factors. Faktor pertumbuhan ini dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor (FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor-b (TGF-b), akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan menghasilkan pembesaran prostat.















C.     PATOFISIOLOGI
TESTIS                                                                         USIA LANJUT

PADA FASE AWAL PROSTAT HYPERPLASIA

POLA DAN KUALITAS MIKSI BERUBAH

KONTRAKSI MUSKULUS DESTRUSSOR
TIDAK ADEKUAT (LEMAH)

RETENSIO URINE TOTAL                         RESIDUAL URINE
(FASE DEKOMPENSASI)








NYERI
OLEH TEKANAN TEKANAN INTRA VESIKA URINARIA
 

INKONTINENSIA PARADOKSA OVERFLOW INCONTINENSIA (TEKANAN INTRA VASKULER URINARIA DARI PADA TEKANAN SPINKTER BERSIFAT KRONIS)
 



























D.    MANIFESTASI KLINIS


 




Walaupun Benigna Prostat Hipertropi selalu terjadi pada orang tua, tetapi tak selalu disertai gejala-gejala klinik, hal ini terjadi karena dua hal yaitu:
1.      Penyempitan uretra yang menyebabkan kesulitan berkemih
2.      Retensi urin dalam kandung kemih menyebabkan dilatasi kandung kemih, hipertrofi kandung kemih dan cystitis.
Adapun gejala dan tanda yang tampak pada pasien dengan Benigna Prostat
Hipertrofi:
  1. Retensi urin
  2. Kurangnya atau lemahnya pancaran kencing
  3. Miksi yang tidak puas
  4. Frekuensi kencing bertambah terutama malam hari (nocturia)
  5. Pada malam hari miksi harus mengejan
  6. Terasa panas, nyeri atau sekitar waktu miksi (disuria)
  7. Massa pada abdomen bagian bawah
  8. Hematuria
  9. Urgency (dorongan yang mendesak dan mendadak untuk mengeluarkan urin)
  10. Kesulitan mengawali dan mengakhiri miksi
  11. Kolik renal
  12. Berat badan turun
  13. Anemia
Gejala Klinis
Gejala pembesaran prostat jinak dibedakan menjadi dua kelompok. Pertama, gejala iritatif, terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil (urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit menahan buang air kecil (urge incontinence). Kedua, gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa kosong (incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil (hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow4.
Tanda Klinis
Tanda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran pada pemeriksaan colok dubur/digital rectal examination (DRE). Pada BPH, prostat teraba membesar dengan konsistensi kenyal.


E.     PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan BPH berupa :
a.       Watchful Waiting
Watchful waiting dilakukan pada penderita dengan keluhan ringan. Tindakan yang dilakukan adalah observasi saja tanpa pengobatan.
b.      Terapi Medikamentosa
Pilihan terapi non-bedah adalah pengobatan dengan obat (medikamentosa).
c.       Terapi Bedah Konvensional
Open simple prostatectomy
Indikasi untuk melakukan tindakan ini adalah bila ukuran prostat terlalu besar, di atas
100g, atau bila disertai divertikulum atau batu buli-buli.
d.      Terapi Invasif Minimal
1.  Transurethral resection of the prostate (TUR-P)
Menghilangkan bagian adenomatosa dari prostat yang menimbulkan obstruksi dengan menggunakan resektoskop dan elektrokauter.
2. Transurethral incision of the prostate (TUIP)
Dilakukan terhadap penderita dengan gejala sedang sampai berat dan dengan ukuran prostat kecil.
e.       Terapi laser
Tekniknya antara lain Transurethral laser induced prostatectomy (TULIP) yang dilakukan dengan bantuan USG, Visual coagulative necrosis, Visual laser ablation of the prostate (VILAP), dan interstitial laser therapy.
f.       Terapi alat
1. Microwave hyperthermia
Memanaskan jaringan adenoma melalui alat yang dimasukkan melalui uretra atau
rektum sampai suhu 42-45oC sehingga diharapkan terjadi koagulasi.
2. Trans urethral needle ablation (TUNA)
Alat yang dimasukkan melalui uretra yang apabila posisi sudah diatur, dapat mengeluarkan 2 jarum yang dapat menusuk adenoma dan mengalirkan panas, sehingga terjadi koagulasi sepanjang jarum yang menancap di jaringan prostat.
3. High intensity focused ultrasound (HIFU)
Melalui probe yang ditempatkan di rektum yang memancarkan energi ultrasound dengan intensitas tinggi dan terfokus.
4. Intraurethral stent
Adalah alat yang secara endoskopik ditempatkan di fosa prostatika untuk mempertahankan lumen uretra tetap terbuka.
5. Transurethral baloon dilatation
Dilakukan dengan memasukkan kateter yang dapat mendilatasi fosa prostatika dan leher kandung kemih.
Penatalaksanaan lain yang di lakukan adalah:
Kini, sudah beredar suplemen makanan yang dapat membantu mengatasi pembesaran kelenjar prostat. Salah satunya adalah suplemen yang kandungan utamanya saw palmetto. Berdasarkan hasil penelitian, saw palmetto menghasilkan sejenis minyak, yang bersama-sama dengan hormon androgen dapat menghambat kerja enzim alpha reduktase, yang berperan dalam proses pengubahan hormon testosteron menjadi dehidrotestosteron (penyebab BPH)5. Hasilnya, kelenjar prostat tidak bertambah besar.
Zat-zat gizi yang juga amat penting untuk menjaga kesehatan prostat di antaranya adalah:
1.         Vitamin A, E, dan C, antioksidan yang berperan penting dalam mencegah pertumbuhan sel kanker, karena menurut penelitian, 5-10% kasus BPH dapat   berkembang menjadi kanker prostat.
2.         Vitamin B1, B2, dan B6, yang dibutuhkan dalam proses metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, sehingga kerja ginjal dan organ tubuh lain tidak terlalu berat.
3.         Copper (gluconate) dan Parsley Leaf, yang dapat membantu melancarkan pengeluaran air seni dan mendukung fungsi ginjal.
4.         L-Glysine, senyawa asam amino yang membantu sistem penghantaran rangsangan ke susunan syaraf pusat.
5.         Zinc, mineral ini bermanfaat untuk meningkatkan produksi dan kualitas sperma.
Berikut ini beberapa tips untuk mengurangi risiko masalah prostat, antara lain:
1.      Mengurangi makanan kaya lemak hewan
2.      Meningkatkan makanan kaya lycopene (dalam tomat), selenium (dalam makanan laut), vitamin E, isoflavonoid (dalam produk kedelai)
3.      Makan sedikitnya 5 porsi buah dan sayuran sehari
4.      Berolahraga secara rutin
5.      Pertahankan berat badan ideal

F.      KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada hipertropi prostat adalah
  1. Retensi kronik dapat menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, gagal ginjal.
  2. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi pada waktu miksi
  3. Hernia / hemoroid
  4. Karena selalu terdapat sisa urin sehingga menyebabkan terbentuknya batu
  5. Hematuria
  6. Sistitis dan Pielonefritis
ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN DIAGNOSA BPH

1.      Pengkajian
Riwayat Keperawatan
·           Suspect BPH ® umur > 60 tahun
·           Pola urinari : frekuensi, nocturia, disuria.
·           Gejala obstruksi leher buli-buli : prostatisme (Hesitansi, pancaran, melemah, intermitensi, terminal dribbling, terasa ada sisa) Jika frekuensi dan noctoria tak disertai gejala pembatasan aliran non Obstruktive seperti infeksi.
·           BPH ® hematuri

2.      Pemeriksaan Fisik
·           Perhatian khusus pada abdomen ; Defisiensi nutrisi, edema, pruritus, echymosis menunjukkan renal insufisiensi dari obstruksi yang lama.
·           Distensi kandung kemih
·           Inspeksi : Penonjolan pada daerah supra pubik ® retensi urine
·           Palpasi : Akan terasa adanya ballotement dan ini akan menimbulkan pasien ingin buang air kecil ® retensi urine
·           Perkusi : Redup ® residual urine
·           Pemeriksaan penis : uretra kemungkinan adanya penyebab lain misalnya stenose meatus, striktur uretra, batu uretra/femosis.
·           Pemeriksaan Rectal Toucher (Colok Dubur) ® posisi knee chest
Syarat          :           buli-buli kosong/dikosongkan
Tujuan         :           Menentukan konsistensi prostat
Menentukan besar prostat
3.      Pemeriksaan Penunjang
  1. Pemeriksaan Radiologi
Pada Pemeriksaan Radiologi ditujukan untuk
a.         Menentukan volume Benigne Prostat Hyperplasia
b.         Menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residual urine
c.         Mencari ada tidaknya kelainan baik yang berhubungan dengan Benigne Prostat Hyperplasia atau tidak

Beberapa Pemeriksaan Radiologi
a.         Intra Vena Pyelografi ( IVP ) : Gambaran trabekulasi buli, residual urine post miksi, dipertikel buli.
Indikasi         : disertai hematuria, gejala iritatif menonjol disertai urolithiasis
Tanda BPH   : Impresi prostat, hockey stick ureter
b.         BOF : Untuk mengetahui adanya kelainan pada renal
c.         Retrografi dan Voiding Cystouretrografi : untuk melihat ada tidaknya refluk vesiko ureter/striktur uretra.
d.        USG : Untuk menentukan volume urine, volume residual urine dan menilai pembesaran prostat jinak/ganas

  1. Pemeriksaan Endoskopi.
  2. Pemeriksaan Uroflowmetri
Berperan penting dalam diagnosa dan evaluasi klien dengan obstruksi leher buli-buli
Q max : > 15 ml/detik ® non obstruksi
10 - 15 ml/detik ® border line
< 10 ml/detik ® obstruktif

  1. Pemeriksaan Laborat
·           Urinalisis (test glukosa, bekuan darah, UL, DL, RFT, LFT, Elektrolit, Na,/K, Protein/Albumin, pH dan Urine Kultur)
Jika infeksi:pH urine alkalin, spesimen terhadap Sel Darah Putih, Sel Darah Merah atau PUS.
·           RFT ® evaluasi fungsi renal
·           Serum Acid Phosphatase ® Prostat Malignancy


Pohon Masalah
















Diagnosa keperawatan
  1. Gangguan rasa nyaman;nyeri b/d spasme otot spincter
  2. Perubahan pola eliminasi:retensi urin b/d obstruksi sekunder
  3. Resiko tinggi terjadi infeksi b/d kateterisasi
  4. Cemas/ancietas b/d kurangnya informasi tentang penyakit



 
RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN

TGL
DX. KEP
TUJUAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN
RENCANA TINDAKAN
RASIONAL
TTD

Gangguan Rasa Nyaman;Nyeri B/D Spasme Otot Spincter

















Perubahan pola eliminasi urin:retensi urin b/d obstruksi sekunder














Resiko tinggi terjadinya infeksi b/d kateterisasi












Cemas/ ancietan b/d kurangnya informasi tentang penyakit
Setelah dilakukan perawatan selama 3-5 hari pasien mampu mempertahankan derajat kenyamanan secara adekuat, dengan kriteria hasil:
1.      secara verbal pasien mengungkapkan nyeri bekurang/ hilang.
2.      pasien dapat beristirahat dengan tenang.











Setelah dilakukan tindakan selama 5-7 hari pasien tidak mengalami retensi urin, dengan kriteria hasil: pasien dapat bung air kecil teratur bebas dari distensi kandung kemih.












Setelah dilakukan tindakan perawatan selama 1-3 hari pasien terbebas dari infeksi, dengan kriteria hasil:
a.       TTV dalam batas normal
b.      Tidak ada bengkak, aritema, nyeri
c.       Luka insisi semakin sembuh dengan baik.







Setelah di lakukan tindakan perawatan selama 1-2 hari pasien di harapkan kecemasan berkurang dengan kriteria hasil:
a.       pasien dapat menyatakan kecemasan yang di rasakan
b.      pasien dapat beristirahat dengan tenang
c.       tensi dan nadi dalam batas normal.
d.      Ekspresi wajah ceria/ rileks
a.    Observasi TTV
b.    monitor dan catat adanya rasa nyeri,lokasi,durasi dan faktor pencetus serta penghilang rasa nyeri
c.    Beri kompres hangat pada abdomen terutama bagian bawah.
d.   Atur posisi pasien senyaman mungkin, ajarkan teknik relaksasi.
e.    Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik.







a.       lakukan irigasi kateter secara berkala /terus menerus dengan teknik steril.
b.      Atur posisi selang kateter dan urin bag sesuai gravitasi dlm keadaan tertutup
c.       Mempertahankan kesterilan sistem drainage cuci tangan sebelum dan sesudah menggunakan alat dan observasi aliran urin serta adanya bekuan darah / jaringan.
d.      Monitor urin setiap jam
e.       Ukur intake dan output cairan


a.       Pertahankan sistem kateter steril, berikaan betadine pada kateter dan ujung uretra kemudian tutup dengan kasa.
b.      Observasi tanda dan gejala infeksi saluran kecing
c.       Kolaborasi dengan dokter untuk pergantian kateter atau obat antibiotika.






a.       berikan dorongan terhadap tiap- tiap proses kehilangan status kesehatan yang timbul.
b.      Batasi staf perawat/ petugas yang menangani pasien.
c.       Temani pasien bila gejala- gejala kecemasan timbul.
d.      Berikan kesempatan bagi pasien untuk mengekspresikan perasaannya.
e.       Berikan informasi tentang program pengobatan dan hal-hal lain yang mencemaskan pasien.
f.       Anjurkan pasien istirahat sesuai dengan yang di programkan.
a.   Mengetahui keadaan umum pasien dan deteksi dini adanya kelainan.
b.   Mengetahui derajat nyeri
c.   Meningkatkan relaksasi otot spinkter dan dapat menurunkan rasa nyeri
d.  Mengurangi ketidak nyamanan dan dapat menurunkan ransangan  nyeri.
e.   Cara kerja obat secara kimiawi dapat menekan ransangan nyeri melalui saraf perifer




a.       mencegah port de entree mikroorganisme melalui selang kateter.
b.       Mencegah aliran balik urin ke dalam vesica urunaria.
c.       Mencegah infeksi dan menghambat masuknya mikroorganisme.
d.      Mengetahui jumlah, warna, konsistensi, dan bau urin.
e.       Mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh.



a.       mencegah masuknya bakteri dan infeksi
b.      mendeteksi infeksi sejak dini
c.       untuk mengurangi kemungkinan resiko infeksi saluran kencing.









a.     mengurangi rasa cemas.
b.     Untuk dapat lebih memberikan ketenangan.
c.     Untuk mengurangi rasa cemas
d.    Kemampuan pemecehan masalah pasien meningkat bila lingkungan nyaman dan mendukung.
e.     Informasi yang di berikan dapat membantu mengurangi kecemasan / ansietas.
f.      Untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan pasien